Berbuka Puasa dengan yang Manis?


Setelah seharian berpuasa, rasanya sangat menyegarkan jika berbuka dengan yang manis. Mulai dari es buah, kolak pisang, ubi goreng, atau bahkan hanya sekedar teh manis hangat. Namun tahukah kamu jika hal itu justru kurang baik untuk kesehatan?

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memang berbuka puasa dengan yang manis. Namun perlu diketahui bahwa manis yang didapatnya adalah manis alami yang berasal dari kurma, bukan gula pasir apa lagi pemanis buatan. Sebagaimana yang dituturkan dalam sebuah hadits,

“Biasanya Rasulullah shallallahu ’alaihi  wa sallam berbuka puasa dengan ruthab sebelum shalat (Maghrib). Jika tidak ada ruthab (kurma muda) maka dengan tamr (kurma matang), jika tidak ada tamr maka beliau meneguk beberapa teguk air” (HR. Abu Dawud).

Baca juga: Menu Sehat untuk Berbuka Puasa

Berdasarkan rekomendasi dari British Nutrition Foundation, sebagaimana dilansir Kompas.com (10/05/2019), buka puasa yang baik harus dimulai dengan mengembalikan cairan tubuh yang hilang. Caranya dengan meminum setidaknya dua gelas air putih (500 ml). Setelah itu, kita boleh mengonsumsi makanan yang mengandung gula untuk memulihkan energi.

Meski begitu, gula yang sebaiknya dikonsumsi saat berbuka puasa bukanlah gula pasir atau gula buatan lainnya. Pilihan terbaik adalah gula alami yang terdapat dalam sayur atau buah. Dengan kata lain, mengonsumsi es buah dan kawan-kawannya bukanlah jawaban.

Efek buruk berbuka dengan yang manis
Berbuka puasa dengan makanan atau minuman manis sebetulnya merupakan salah satu anjuran. Ketika manusia berpuasa, kadar gula dalam darah menurun sehingga menyebabkan kita merasa lemas, mengantuk, dan tidak berenergi.

Untuk mengembalikan energi tersebut, kita memang dianjurkan untuk mengonsumsi gula agar kembali bertenaga. Namun makanan manis yang menggunakan gula tambahan seperti di atas justru tidak baik bila dikonsumsi secara berlebihan.

Selain itu, asupan gula tambahan yang tidak murni juga bisa membuat lonjakan kalori dalam tubuh. Terlalu banyak kalori bisa berujung pada kenaikan berat badan selepas Ramadhan. Padahal jika diterapkan dengan pola makan yang benar, puasa Ramadhan mampu mengurangi berat badan.

Irfan Saeful Wathon

| Tim Editor

Irfan Saeful Wathon has 34 posts and counting. See all posts by Irfan Saeful Wathon