Hari Raya Idul Fitri dan Pandemi Covid-19


Oleh: Dr. Muhammad Yusran Hadi, Lc., MA*

Baru saja bulan Ramadhan 1441 H meninggalkan kita. Setelah sebulan penuh di bulan ini, umat Islam berpuasa dan melakukan berbagai ibadah lainnya dengan semangat dan antusias, meskipun dalam suasana pandemi covid-19. Kini telah hadir bulan Syawal menghampiri kita sebagai penggantinya. Di bulan ini, umat Islam merayakan hari raya Idul Fitri pada tanggal 1 Syawal setiap tahunnya. Hari raya ini dan idul Adha 10 Zulhijjah ditetapkan oleh Rasulullah Saw sebagai hari raya umat Islam yang diharamkan berpuasa padanya.

Hari raya Idul Fitri merupakan hari kebahagiaan dan kegembiraan bagi umat Islam atas kemenangan dalam “jihad” melawan hawa nafsu selama sebulan penuh di bulan Ramadhan. Juga atas kesuksesan dalam ujian keimanan dan ketaatan di bulan Ramadhan. Oleh karena itu, hari ini dirayakan oleh umat Islam dengan antusias dan gembira sepanjang tahun. Selain memperbanyak takbir dan melaksanakan ibadah shalai ‘ied (hari raya), umat Islam juga melakukan berbagai kegiatan untuk menyambut dan memeriahkan hari raya Idul Fitri.

Namun, hari raya Idul Fitri tahun ini berbeda bagi umat Islam di Indonesia dan seluruh dunia. Pasalnya, Idul Fitri kali ini dirayakan di tengah pandemi Covid-19 dengan segala aturan dan kebiasaan yang baru untuk menghambat penyebaran virus. Pandemi ini sungguh mengubah kehidupan sehari-hari, terutama interaksi sosial.

Pandemi Covid-19 membuat Hari Raya Idul Fitri tahun ini berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Banyak kebiasaan atau tradisi yang mengiringi perayaan Idul Fitri mesti berubah. Mulai dari larangan mudik atau pulang kampung, Salat Id di rumah, tak bisa silaturahmi, tak bisa takbir keliling (pawai takbiran) dan masih banyak hal yang berubah.

Pandemi yang bermula dari provinsi Wuhan di Cina sejak Desember 2019 ini telah menyebar ke seluruh dunia termasuk Indonesia dalam waktu yang sangat singkat dan mengancam keselamatan jiwa manusia. Banyak orang yang menjadi korban virus yang ganas dan mematikan ini. Ini bencana kemanusiaan yang mengerikan. Selain itu juga telah menghancurkan perekonomian semua negara termasuk Indonesia.

Hingga hari Ahad 24 Mei 2020, virus ini telah menjangkiti 5.324.933 orang dan menewaskan 342.341 orang di seluruh dunia. Adapun di Indonesia korban positif 22.271 orang dan meninggal 1.327 orang. Jumlah ini bisa bertambah setiap hari dengan signifikan. Virus ini mampu membunuh manusia hanya dalam waktu beberapa hari dan menyebar ke seluruh dunia dalam waktu singkat. Maka virus ini sangat berbahaya. Tidak bisa dianggap enteng dan remeh.

Mengingat bahaya virus covid-19, maka para ahli medis seluruh dunia menghimbau semua orang untuk menerapkan protokol covid-19 untuk mencegah dan memutuskan rantai penyebaran virus. Di antaranya, selalu mencuci tangan dengan sanitizer atau sabun, menghindari kerumunan, menjaga jarak, tidak bersalaman dan kontak fisik, dan sebagainya.

Takbir Secara Virtual

Sejak berakhirnya bulan Ramadhan dan masuknya bulan Syawal, umat Islam disunnahkan untuk memperbanyak takbir sebagai rasa syukur atas nikmat Allah swt yang telah memberikan kesempatan untuk beribadah di bulan Ramadhan. Allah Swt berfirman: “…Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangan dan mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, agar kamu bersyukur.” (Al-Baqarah: 185)

Takbir hari raya Idul Fitri disunnahkan sejak terbenamnya matahari di akhir bulan Ramadhan sampai waktu shalat i’ed esok paginya. Inilah waktu yang disunnahkan untuk bertakbir untuk bersyukur atas nikmat Allah. Takbir menunjukkan pengagungan dan rasa syukur kepada Allah Swt sesuai dengan perintah Alqur’an. Juga menandakan berakhirnya bulan Ramadhan dan masuknya bulan Syawal. Oleh karena itu, umat Iskam melakukan takbir di masjid-masjid dan surau-surau setelah shalat Maghrib, Isya dan Shubuh hingga shalat ied.

Pandemi telah menghalangi takbir di masjid setelah shalat fardhu tersebut. Shalat berjama’ah di masjid ditiadakan, maka takbir pun ditiadakan. Begitu pula pandemi telah menghalangi kegiatan memeriahkan hari raya seperti takbir keliling (pawai takbir) dan sebagainya. Kegiatan tersebut merupakan kegiatan yang khas dilakukan pada lebaran pada setiap tahunnya di Indonesia.

Sudah menjadi tradisi di Indonesia, malam hari raya dimeriahkan dengan kegiatan takbir keliling (pawai takbir). Kegiatan ini diadakan oleh berbagai daerah di seluruh pelosok Indonesia. Kegiatan takbir berjama’ah ini dilakukan dalam rangka menyambut kedatangan hari raya Idul Fitri dan memeriahkannya.

Namun karena suasana pandemi ini, maka kegiatan ini ditiadakan sesuai dengan aturan PSPB dan phisycal distancing serta protokol covid-19 yang diberlakukan oleh pemerintah. Sebagai gantinya, takbir dilakukan di rumah dan secara virtual lewat televisi, teleconference, youtube, zoom, dan sebagainya.

Shalat I’ed di Rumah

Pada pagi tanggal 1 Syawal, umat Islam diperintahkan untuk melaksanakan shalat ‘ied. Shalat i’ed merupakan sunnah Nabi saw yang tidak pernah ditinggalkan dan syi’ar agama Islam. Oleh karena itu, sangat dianjurkan bahkan wajib menurut sebahagian ulama. Shalat i’ed dilakukan secara berjama’ah di masjid atau di lapangan. Namun boleh juga dilakukan di rumah bersama keluarga sebagaimana dilakukan oleh sahabat Nabi saw. Terlebih lagi pada saat pandemi ini, maka shalat i’ed lebih baik dilakukan di rumah bersama keluarga atau sendirian. Adapun khutbah i’ed hukumnya sunnat.

Kebanyakan umat Islam di dunia, termasuk di Indonesia melaksanakan shalat ‘ied di rumah dengan keluarganya sesuai dengan himbauan pemerintah dan para ulama masing-masing negara. Meskipun di Indonesia ada sebagian umat Islam melaksanakan shalat i’ed di masjid dan lapangan seperti biasanya, namun dengan mengikuti aturan protokol covid-19 dengan memakai masker, menjaga jarak dan tidak bersalaman atau kontak fisik dan sebagainya. Kondisi ini sangat berbeda dengan shalat i’ed tahun-tahun sebelumnya.

Pandemi ini telah menghalangi shalat berjama’ah di masjid, termasuk shalat i’ed yang disunnahkan dilakukan di masjid atau lapangan. Menteri agama dan Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah mengeluarkan beberapa panduan ibadah dalam bulan Ramadhan 1441H dan Hari Raya Idul Fitri. Di antaranya, menghimbau umat Islam untuk shalat ied di rumah. Begitu pula para ulama sedunia menghimbau agar umat Islam shalat ‘ied di rumah.

Para ulama sedunia telah menfatwakan kebolehan shalat berjama’ah dan Jum’at di rumah. Shalat Jum’at diganti dengan shalat zhuhur. Mereka meminta umat Islam untuk shalat di rumah untuk sementara ini selama pandemi. Inilah fatwa sedunia di antaranya Dewan Ulama Senior Al-Azhar, Dewan Ulama Senior Arab Saudi, Persatuan Ulama Dunia, Persatuan Ulama Liga Arab dan lainnya. Fatwa ini diikuti oleh Majelis Ulama Indonesia, Malaysia, Thailand dan Brunei Darussalam.

Fatwa ini muncul merespon persoalan ibadah di masjid pada saat pandemi. Alasannya, untuk mencegah dan memutuskan rantai penyebaran covid-19. Selain itu, untuk menyelamatkan jiwa manusia dan menghindari dari hal-hal yang membahayakannya. Fatwa ini berdasarkan Alqur’an, As-Sunnah, ijma’ dan qiyas. Selain itu juga berdasarkan maqashid asy-syari’ah dan kaidah-kaidah Fiqh dan Ushul Fiqh.

Sama dengan shalat berjama’ah lima waktu dan Jum’at, para ulama menghimbau agar shalat tarawih dan i’ed dilakukan di rumah dalam masa pandemi ini. Alasan yang dikemukakan oleh para ulama sama seperti alasan dibolehkannya shalat lima waktu dan Jum’at di rumah selama pandemi ini.

Jika shalat lima waktu dan Jum’at yang hukumnya wajib dilakukan dengan berjama’ah di masjid atau tempat lainnya boleh ditiadakan dikarenakan khawatir penyakit sehingga dianggap uzur syar’i meninggalkan jama’ah di masjid dan kondisi darurat, maka terlebih lagi shalat sunnat yang dilakukan secara berjama’ah seperti shalat tarawih dan shalat i’ed. Maka, boleh hukumnya boleh shalat ‘ied di rumah.

Shalat ‘ied di rumah pernah dilakukan oleh para shalafush shalih di antaranya Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu sebagaimana diriwayatkan oleh imam Al-Bukhari, Ibnu Syaibah, Abdurrazzaq, Al-Baihaqi dan dijadikan hujjah oleh imam Ahmad serta dikuatkan oleh para ulama ahli tahqiq kontempoter seperti syaikh ad-duwaisy dan lainnya.

Silaturrahmi Secara Virtual

Sudah menjadi tradis umat Islam di Indonesia menjelang hari raya balik ke kampung masing-masing untuk berkumpul dengan orang tua dan keluarganya. Tradisi ini biasa disebut mudik. Namun pada masa pandemi ini, mudik dilarang oleh pemerintah. Pemerintah menerapkan aturan PSPB dan sosial distancing untuk mencegah penyebaran virus.

Pada hari raya Idul Fitri, biasanya umat Islam melakukan kegiatan silaturrahmi mengunjungi dan berkumpul dengan keluarga, karib kerabat dan kenalannya. Namun, karena pandemi ini maka kegiatan ini ditiadakan, kecuali hanya sebatas keluarga saja.

Banyak orang yang memilih berhari raya di rumahnya sendiri dari pada mencari resiko dengan mengunjungi orang lain. Mereka lebih memilih bersabar tinggal di rumah dalam kondisi ini untuk mencegah dan memutuskan rantai penyebaran virus.

Meskipun demikian, umat Islam bisa saling bersilaturrahmi dengan keluarganya dan karib kerabatnya secara virtual sebagai ganti bertatap muka langsung. Begitu pula melakukan kegiatan dalam rangka memeriahkan kegiatan hari raya. Umat saling mengucapkan selamat hari raya dan bermaaf-maafan serta berkomunikasi melalui hand phone, laptop, teleconference dan media lainnya.

Inilah suasana hari raya Idul Fitri di masa pandemi covid-19. Meskipun pandemi ini tidak menyenangkan dan banyak memberikan kesulitan dalam melakukan aktivitas ibadah dan lainnya, namun sebenarnya pandemi juga memberikan hikmah dan pelajaran. Di antaranya, pandemi telah menyadarkan manusia bahwa ia makhluk yang lemah dan Allah swt Maha Pencipta dan Maha Berkuasa. Pandemi juga peringatan dari Allah atas maksiat manusia dan mendorong untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt. Selain itu, menyadarkan manusia akan tanggung jawab terhadap keluarganya.

Bagaimapun juga, kita wajib berikhtiar untuk mencegah covid-19, bersabar di rumah dan berdoa. Berikhtiar dengan mengikuti protokol covid-19 dan stay at home (tinggal di rumah). Selebihnya, bertawakkal dan berdoa kepada Allah Swt memohon perlindungan-Nya. Inilah ajaran ahlussunnah wal jama’ah. Semoga Allah swt melindungi umat Islam dari pandemi ini. Dan semoga pandemi ini segera berlalu dan meninggalkan kita. Amin..

*) Penulis adalah Ketua Majelis Intelektual & Ulama Muda Indonesia (MIUMI) Aceh, Ketua Jaringan Alumni Timur Tengah Indonesia (JATTI) Aceh, Anggota Ikatan Ulama & Da’i Asia Tenggara, dan Doktor Fiqh & Ushul Fiqh di International Islamic University Malaysia (IIUM).

nusantarachannel

Nusantara Channel adalah media online yang terpercaya dan kreatif bagi kalangan Milenial di Nusantara #milenialmembaca

nusantarachannel has 81 posts and counting. See all posts by nusantarachannel